5 Megafauna yang Punah Akibat Manusia - info terbaru, terkini dan terpopuler | 1xinfo.net

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 13 September 2019

5 Megafauna yang Punah Akibat Manusia

1xinfo.net - Dulu di bumi ini ada lemur dengan ukuran sebesar manusia, atau burung tanpa sayap yang memiliki telur seberat sepuluh kilogram. Sayangnya, sejak akhir Pleistosen para megafauna tersebut mulai menghilang. Catatan menunjukkan bahwa di mana manusia mulai menempati suatu area, maka hewan-hewan besar di area tersebut 100 sampai 1000 kali lebih cepat menghilang.

Entah secara langsung atau tidak, manusia tetap menjadi faktor utama bagaimana lima megafauna di bawah ini mengalami kepunahan.

1. Burung Gajah
Burung gajah, terlepas dari namanya, tidaklah memiliki ukuran sebesar hewan gajah yang kita kenal. Nama hewan yang dulunya tinggal di pulau Madagaskar ini didapatkan dari penjelajah Italia terkenal Marco Polo, yang menyebut "burung gajah" di salah satu narasinya pada tahun 1928. 

Di tahun 2018, para ilmuwan menetapkan salah satu jenis burung gajah (Vorombe titan) memiliki bobot hingga 730 kilogram dengan tinggi mencapai 4 meter. Fakta tersebut menjadikan mereka burung terbesar di dunia.

Bagaimana burung gajah punah sekitar 800-1000 tahun yang lalu, diduga terjadi karena aktivitas manusia. Teori ini didukung oleh bukti studi arkeologi yang menemukan sisa-sisa telur di antara api buatan manusia, pula tulang-tulang purba yang memiliki tanda-tanda pemotongan oleh alat buatan. Selain itu, pertumbuhan populasi manusia dan agrikultur yang berkembang menyebabkan rusaknya habitat para burung gajah.


2. Sapi Laut Steller
Merupakan kerabat dekat hewan dugong, sapi laut Steller ditemukan di pantai Laut Bering oleh penyelidik alam Georg W. Steller pada tahun 1741, akibat karamnya kapal ekspedisi pimpinan Vitus Bering. Menurut catatan, sapi laut Steller dewasa pada abad ke-18 dapat tumbuh hingga sepanjang sembilan meter, dengan berat delapan sampai sepuluh ton.

Tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan, sapi laut Steller juga diburu untuk digunakan sebagai bahan lampu minyak. Lemak mereka dapat disimpan dalam waktu lama di tempat hangat, selain itu tidak menimbulkan asap pun bau saat digunakan.

Dalam jangka waktu 27 tahun setelah ditemukan, megafauna yang dideskripsikan sangat sosial dan mudah ditangkap ini diburu sampai punah oleh manusia.


3. Moa Raksasa
Sebagai salah satu hewan endemik Selandia Baru, Moa merupakan burung tanpa sayap dengan berat mencapai 250 kilogram dan tinggi 4 meter. Leher panjang menjadi fitur khas Moa, dengan kepala kecil dan paruh segitiga kokoh. Fosil hewan herbivora ini ditemukan telah hadir sejak 2,4 juta tahun lalu.

Menurut para ilmuwan, punahnya Moa terjadi pada tahun 1400-an. Mayoritas barang-barang seperti perhiasan, pakaian, kail ikan, dan kepala tombak buatan orang Maori berasal dari burung raksasa tersebut. Sebab diburu secara berlebihan, Moa menjadi salah satu hewan dengan tingkat kepunahan tercepat yang pernah ada.

Fun fact! Selain manusia, satu-satunya predator bagi burung Moa hanyalah Elang Haast (yang kemudian turut punah akibat kurangnya sumber makanan).


4. Diprotodon
Sebagai marsupialia terbesar yang pernah ada, Diprotodon dulunya hidup di daratan benua Australia sejak 1.4 juta tahun yang lalu. Hewan kerabat dekat koala dan wombat ini merupakan herbivora dengan berat mencapai 3 ton dan panjang 3 meter. Ukuran mereka yang besar membuat Diprotodon dewasa kebal dari para predator di masanya. 

Meskipun begitu, para ilmuwan percaya punahnya hewan ini terjadi tidak lama setelah manusia datang dan menetap di Australia sekitar 50.000 tahun lalu. Praktik pengelolaan lahan menggunakan api yang mengubah ekosistem, bersamaan dengan iklim yang secara bertahap mengering, dipercaya memengaruhi hilangnya megafauna Australia tersebut. 


5. Koala Lemur
Megaladapis, atau lebih dikenal dengan sebutan koala lemur, adalah jenis megafauna yang memiliki anggota tubuh pendek dengan tulang jari tangan dan kaki panjang. Hal ini memungkinkan mereka melekat pada batang pohon seperti yang dilakukan koala di masa sekarang. Walau sebelumnya dipercaya terkait dengan salah satu dari kelompok Lepilemur atau Lemur, metode baru menyimpulkan bahwa megafauna ini termasuk jenis dari silsilah lemur purba yang telah punah.

Meski berukuran hampir 1,5 meter, koala lemur adalah hewan diurnal yang lamban. Mereka juga berkembang biak hanya selama satu atau dua minggu dalam setahun.

Selain rentan terhadap para predator, perubahan habitat yang terjadi karena aktivitas manusia membuat mereka mengalami penurunan populasi. Namun pada akhirnya, perburuan berlebihan yang mendorong koala lemur menuju kepunahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad